<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><default:channel xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" rdf:about="http://blagbligblug.blog.co.uk/"><title>The Lost Memory</title><link>http://blagbligblug.blog.co.uk/</link><description></description><dc:language xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">en-US</dc:language><admin:generatorAgent xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" rdf:resource="http://www.blog.co.uk"/><sy:updatePeriod xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">8</sy:updateFrequency><sy:updateBase xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase><image><title>The Lost Memory</title><link>http://blagbligblug.blog.co.uk/</link><url>http://data5.blog.de/design/preview/2f/a72f80627ba2c97f42dfe93ff5175c_160x200.jpg</url></image><items><rdf:Seq><rdf:li rdf:resource="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/yang_ku_dambakan~2095670/"/><rdf:li rdf:resource="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/overview~2093500/"/></rdf:Seq></items></default:channel><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/yang_ku_dambakan~2095670/"><default:title>Yang Ku Dambakan</default:title><default:link>http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/yang_ku_dambakan~2095670/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2007-04-15T14:40:12+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;-Baiti jannati- itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia&lt;br&gt;
Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang&lt;br&gt;
sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta&lt;br&gt;
dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan&lt;br&gt;
salah satu faktor penunjang. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kalau kita cermati lebih lanjut dan menghayati kehidupan rumah tangga Rasul&lt;br&gt;
SAW, kita akan menemukan dua faktor utama yang menyebabkan rumah beliau&lt;br&gt;
seperti syurga. Dua faktor tersebut adalah suami shaleh dan istri yang&lt;br&gt;
shalehah, kenapa??, karena keduanya orang yang paham betul bagaimana cara&lt;br&gt;
membahagiakan pasangan hidupnya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Suami shaleh adalah seorang suami yang selalu ingat bahwa Allah&lt;br&gt;
memerintahkannya agar ia mempergauli istrinya dengan baik dan ia tahu bahwa&lt;br&gt;
istri merupakan amanah yang dititipkan Allah kepadanya, karenanya,&lt;br&gt;
membahagiakan istri merupakan ibadah baginya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Demikian pula dengan istri yang shalehah, ia mengerti betul bahwa&lt;br&gt;
ketaatannnya kepada suami adalah perintah Rasul dan merupakan ibadah yang&lt;br&gt;
dijanjikan pahala oleh yang Maha Pengasih. Begitulah, suami yang shaleh dan&lt;br&gt;
istri shalehah apabila mereka berdua saling mencintai maka keduanya akan&lt;br&gt;
selalu berusaha merealisasikan cinta tersebut dengan saling membahagiakan&lt;br&gt;
pasangannya. Namun jika keduanya tidak saling mencintai (kayaknya nggak&lt;br&gt;
mungkin, ya!!??) atau salah seorang diantara keduanya tidak mencintai yang&lt;br&gt;
lain atau pada saat-saat kesel dan sebel, niscaya mereka tidak akan&lt;br&gt;
menyakiti satu sama lain. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Pada kesempatan kali ini perkenankanlah penulis lebih menitik beratkan&lt;br&gt;
pembahasan tentang wanita shalehah tanpa mengurangi eksistensi pria shaleh,&lt;br&gt;
karena pada prinsipnya mereka mempunyai tuntutan dan pahala yang sama. Allah&lt;br&gt;
berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, baik&lt;br&gt;
laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk&lt;br&gt;
kedalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (Qs 4 : 12).&lt;br&gt;
Lihat juga firman Qs 9 : 71 dan Qs 33 : 35. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada para pemuda agar mereka lebih&lt;br&gt;
mempriorotaskan memilih dzaatuddin (baca : wanita shalihah) untuk dijadikan&lt;br&gt;
pendamping hidupnya. Beliau bersabda yang artinya : “Wanita dinikahi karena&lt;br&gt;
empat perkara : “karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka&lt;br&gt;
pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engakau akan bahagia”. (Muttafaqun&lt;br&gt;
Alaih) &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalihah….. Ia merupakan sosok makhluk lembut yang menjadi idaman&lt;br&gt;
bagi setiap muslim yang shaleh. Karena pada dirinya terdapat perhiasan&lt;br&gt;
terindah di dunia ini sebagaimana disinyalir oleh Sang pembawa kabar gembira&lt;br&gt;
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang&lt;br&gt;
artinya : “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah&lt;br&gt;
wanita shalehah”. Lantas seperti apasih wanita shalehah itu???. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah adalah wanita yang benar-benar mengahambakan diri kepada&lt;br&gt;
Allah dan beribadah hanya kepadaNya. Ia menjauhkan diri dari perbuatan&lt;br&gt;
syirik baik kecil apalagi besar, tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak&lt;br&gt;
minta kepada kuburan atau pohon beringin, tidak memberi sesaji kepada Ratu&lt;br&gt;
Laut Selatan atau ratu-ratu lainnya, tidak kedukun, nggak make jimat dan&lt;br&gt;
banyak lagi perbuatan syirik yang dapat meluluh lantakan amal shaleh Allah&lt;br&gt;
berfirman yang artinya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan&lt;br&gt;
kepada Nabi-nabi sebelummu : “Jika k amu mempersekutukan (Tuhan), niscaya&lt;br&gt;
akan hapuslah amalmu dan tetulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.&lt;br&gt;
Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sambah dan hendaklah kamu&lt;br&gt;
termasuk orang-orang yang bersyukur”. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Lebih gawat lagi Allah tidak akan mengampuni dosa syirik sebagaimana&lt;br&gt;
termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak&lt;br&gt;
mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni&lt;br&gt;
dosa selain dari syirik itu bagi siapa saj yang di kehendakiNya. Barang&lt;br&gt;
siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tesesat&lt;br&gt;
sejauh-jauhnya”.(QS 4 : 116) &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah adalah wanita yang taat, patuh dan berbakti kepada kedua&lt;br&gt;
orang tuanya, Allah SWT menyelaraskan perintah beribadah hanya kepadanya&lt;br&gt;
dengan perintah berbuat baik dengan orang tua. Perhatiakan firman Allah&lt;br&gt;
dalam Qs Al-Israa’ ayat 23-24 yang artinya : “Dan Tuhanmu telah memrintahkan&lt;br&gt;
supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik&lt;br&gt;
kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara&lt;br&gt;
keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka&lt;br&gt;
sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak&lt;br&gt;
mereka da n ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah&lt;br&gt;
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah :&lt;br&gt;
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah&lt;br&gt;
mendidik aku waktu kecil”. Lihat juga Qs 31 : 13-15 &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalihah adalah wanita yang menjadikan shalat sebagai kebahagian&lt;br&gt;
tersendiri baginya, seperti yang dilalkukan oleh idolanya, Rasulullah SAW&lt;br&gt;
bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Anas Ra :&lt;br&gt;
“Dan kujadikan shalat sebagai permata hatiku”. Ia tidak lalai mendirikan&lt;br&gt;
shalat tepat pada waktunya, khusu’ dalam shalat-shalatnya, gemar berpuasa&lt;br&gt;
dan bersedekah, sungguh- sungguh dalam do’anya antara takut dan penuh harap. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah….. Jilbab adalah pakaiannya, busana muslimah yang menutup&lt;br&gt;
rapat seluruh auratnya, pakaian yang disyariatkan oleh Sang Penguasa jagad&lt;br&gt;
raya kepadanya. Allah berfirman yang artinya : “Hai Nabi katakanlah kepada&lt;br&gt;
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin :&lt;br&gt;
“hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang&lt;br&gt;
demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak&lt;br&gt;
diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Jilbab&lt;br&gt;
adalah syi’ar islam, hanya jilbab yang menjadi pembeda antara muslimah dan&lt;br&gt;
wanita kafir di tempat umum. Wanita shalehah tahu apapun yang disyari’atkan&lt;br&gt;
Allah kepada manusia, tidak lain untuk kebaikan mereka. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah…. Dalam dirinya terkumpul kebaikan akhlak, adab baginya&lt;br&gt;
lebih baik dari zahab (emas), penghias bibirnya adalah zikrullah dan bacaan&lt;br&gt;
Al-Qur’an, pemerah pipinya adalah rasa malu, eye shadawnya gahdul bashar dan&lt;br&gt;
ia selalu menjaga kesuciannya sebagai aplikasi dari firman Allah yang&lt;br&gt;
artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan&lt;br&gt;
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan&lt;br&gt;
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka&lt;br&gt;
menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya,&lt;br&gt;
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau&lt;br&gt;
putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara&lt;br&gt;
leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau&lt;br&gt;
wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau&lt;br&gt;
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita)&lt;br&gt;
atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah&lt;br&gt;
mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka&lt;br&gt;
sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang&lt;br&gt;
yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs 24 : 31). &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ia juga menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, baik&lt;br&gt;
melalui bersalaman apalagi diraba-raba. (Iiii ngeriii).Rasul SAW bersabda&lt;br&gt;
yang artinya : “Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang&lt;br&gt;
diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal&lt;br&gt;
baginya”. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi’qol bin yasaar) &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah adalah wanita yang terdidik dengan tarbiyah islamiyah, terus&lt;br&gt;
memperdalam ilmu syar’i, aktif dalam kegiatan dakwah beramar makruf nahi&lt;br&gt;
mungkar. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah.…. Ia senantisa berusaha menghindari ikhtilat, berkhalwat,&lt;br&gt;
apalagi pacaran. Pacaran? makhluk apaan tuh???…. Tidak la yau. Rasulullah&lt;br&gt;
SAW bersabda yang artinya : “'Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat&lt;br&gt;
(berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan”.(Hr Tirmizi) &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah…. Hari-hari libur dari ritualnya ia ganti dengan dangan&lt;br&gt;
hal-hal yang bermanfaat, membaca buku-buku islam, mendengar kaset-kaset&lt;br&gt;
ceramah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan&lt;br&gt;
perintah Allah, sungguh-sungguh terhadap kewajiban dan hirs terhadap&lt;br&gt;
nawafil, sehingga ia dapat menggapai cintaNya sebagaimana yang dijanjikan&lt;br&gt;
oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam&lt;br&gt;
Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : “Rasul bersabda : “Allah berfirman&lt;br&gt;
: “Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah&lt;br&gt;
mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri&lt;br&gt;
kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu&lt;br&gt;
selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku&lt;br&gt;
mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia&lt;br&gt;
gunakan untuk m endengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat&lt;br&gt;
dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan,&lt;br&gt;
apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta&lt;br&gt;
perlindungan niscaya Aku lindungi (Hr Bukhary) &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dan meninggalkan laranganNya, berusaha menghindari yang makhruh dan&lt;br&gt;
sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah&lt;br&gt;
melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak&lt;br&gt;
ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang&lt;br&gt;
disabdakan oleh Nabi SAW yang artinya : “Setiap anak Adam pernah melakukan&lt;br&gt;
perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah&lt;br&gt;
orang-orang yang bertaubat”. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus&lt;br&gt;
pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari&lt;br&gt;
kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana&lt;br&gt;
termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Dan (juga) orang-orang yang&lt;br&gt;
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka&lt;br&gt;
ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi&lt;br&gt;
yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak&lt;br&gt;
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Qs 3 : 135). &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur&lt;br&gt;
lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya.&lt;br&gt;
Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak&lt;br&gt;
bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. So pemuda muslim akan ngiler,&lt;br&gt;
trus ngincer untuk selanjut nguber. Nah lho..... &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah…. Ketika di khitbah oleh seorang muslim yang shaleh dan&lt;br&gt;
multazim, ia tidak menolaknya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Jika&lt;br&gt;
datang kepadamu (mengkhitbah) orang yang kamu ridha dien dan akhlaknya, maka&lt;br&gt;
nikahkanlah dia, bila tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar”.&lt;br&gt;
Ia memprioritaskan dua syarat dien dan akhlak, namun tidak terlalu ghulu&lt;br&gt;
(berlebihan) dalam menyaring dan menentukan pilihan, sebab ia tahu tidak ada&lt;br&gt;
orang zaman sekarang yang imannya setaraf dengan Abu Bakar atau Umar.&lt;br&gt;
Cukuplah baginya pemuda yang shaleh dan multazim, itulah yang ia nantikan. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Suami…, ah gadis mana yang tidak mengenangkan suami, pendamping dan pasangan&lt;br&gt;
hidup, yang akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan? Rasanya semua gadis&lt;br&gt;
mengimpikannya. Akan dinantinya saat-saat kedatangan sang pujaan hati dengan&lt;br&gt;
debar bahagia di dada, dengan rona memerah dipipi, terlambunglah angan dan&lt;br&gt;
teruntailah harapan : “Akankah kumiliki suami idaman nan shaleh?, suami yang&lt;br&gt;
dapat dijadikan tempat berbagi, tempat belajar, tempat mencurahkan isi hati&lt;br&gt;
, tempat bermanja, juga tempat menyerahkan ketaatan agar tercapai ridha&lt;br&gt;
Ilahi, suami yang menjadi qowam yang dapat menggandeng tangan pasangannya&lt;br&gt;
menuju syurga Allah, suami yang menjadi teladan, suami yang menjadi&lt;br&gt;
pendidik, suami yang menjadi kecintaan, aah pantas kiranya tak boleh sembar&lt;br&gt;
angan memilih suami…... &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah….. Saat memasuki jenjang pernikahan, terbetik azam dalam&lt;br&gt;
hatinya, untuk mengoptimalkan diri dalam mencurahkan ketaatan kepada&lt;br&gt;
suaminya, terngiang di telinganya nasehat seorang ibu Umamah binti Harits&lt;br&gt;
kepada putrinya dimalam pernihkahan sang putri tercinta : “Wahai putriku&lt;br&gt;
tersayang… Sesungguhnya nasehat ini jika ditinggalkan karena keagungan adab&lt;br&gt;
maka kutinggalkan ia untukmu. Nasehat ini merupakan peringatan bagi orang&lt;br&gt;
yang lalai (lupa) dan petunjuk bagi yang berakal, jika seorang wanita tidak&lt;br&gt;
butuh terhadap pernikahan, niscaya kedua orang tuanya lebih tidak&lt;br&gt;
membutuhkannya, akan tetapi keduanya sangat membutuhkannya, karena wanita&lt;br&gt;
diciptakan untuka lelaki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Putriku&lt;br&gt;
sayang… kini engkau akan berpisah dari udara dan dunia remaja yang akupun&lt;br&gt;
telah melaluinya. Kini engkau akan menjalani hidup baru yang juga pernah&lt;br&gt;
kujalani, menuju kehidupan yang belum engkau ketahui dan teman yang belum&lt;br&gt;
engkau pahami, dia akan menjadi raja dan pelindung bagimu. Jadilah engkau&lt;br&gt;
budaknya, niscaya dia akan menjadi budak yang dekat denganmu, ingat dan&lt;br&gt;
peliharalah sepuluh point yang akan menjadi modal dan simpanan bagimu. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Yang pertama dan kedua adalah : Tunduk berkhidmat kepadanya disertai dengan&lt;br&gt;
qona’ah. Memperhatikan ucapannya disertai dengan to’ah (taat). &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Yang ketiga dan ke empat : menjaga persaan mata dan hidungnya, jangan sampai&lt;br&gt;
matanya melihat sesuatu yang jelek darimu dan jangan tercium olehnya kecuali&lt;br&gt;
sesuatu yang harum dan wangi. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Adapun yang kelima dan enam : perhatikanlah watu makan dan tidurnya, karena&lt;br&gt;
rasa lapar dapat menimbulkan emosi dan kurang tidur bisa mengundang amarah. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Yang ke tujuh dan delapan : menjaga hartanya serta menaruh hormat terhadap&lt;br&gt;
keluarganya, aturlah hartanya dengan baik dan pergauilah keluarganya sebaik&lt;br&gt;
mungkin. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dan yang ke sembilan dan sepuluh : jangan engkau maksiat dan menentangnya,&lt;br&gt;
jangan pula engkau beberkan rahasianya, bila engkau menentangnya maka engkau&lt;br&gt;
telah mengobarkan kemarahannya dan jika engkau membeberkan rahasianya&lt;br&gt;
niscaya engkau tidak akan merasa aman akan kepergiannya. Kemudian jangan&lt;br&gt;
sampai engkau menampakkan kegembiraan jika ia sedang bersedih dan jangan&lt;br&gt;
pula menampakkan kesedihan bila ia sedang gembira. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah….. Ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak melulu&lt;br&gt;
berjalan mulus, berbentangkan permadani. Kehidupan rumah tangga tak ubahnya&lt;br&gt;
sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, terkadang tenang dengan ombak&lt;br&gt;
dan riak-riak kecil, namun dilain waktu angin kencang melanda, badai&lt;br&gt;
menghantam, ombak bergulung seakan ingin menenggelamkan kapal dan seluruh&lt;br&gt;
isinya. Saat seperti itulah peranan suami istri teruji, jika mereka kompak,&lt;br&gt;
bahu-membahu dengan saling pengertian, InsyaAllah biduk akan selamat sampai&lt;br&gt;
ketepian. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah….. Ia menjadi sesuatu yang paling berharga bagi suaminya&lt;br&gt;
setelah ketakwaannya kepada Allah, bila dipandang oleh sang suami&lt;br&gt;
menimbulkan rasa bahagia dihati. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits&lt;br&gt;
yang artinya : “tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang muslim setelah&lt;br&gt;
takwa kepada Allah dan lebih baik baginya selain dari istri yang shalehah,&lt;br&gt;
apabila ia memerintahnya dia akan mentaatinya, jika ia melihat kepadanya dia&lt;br&gt;
membahagiakannya, jika bersumpah kepadanya dia menepatinya dan bila ia tidak&lt;br&gt;
berada di dekatnya dia menjaga dirinya juga harta suaminya”. (HR Ibnu&lt;br&gt;
Majah). Ia tidak memasukkan lelaki kerumahnya tanpa seizin sang suami dan&lt;br&gt;
selalu menjaga harga diri dan kepercayaan suaminya. Allah berfirman yang&lt;br&gt;
artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena&lt;br&gt;
Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain&lt;br&gt;
(wanita), dan kerena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari&lt;br&gt;
harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada&lt;br&gt;
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah&lt;br&gt;
telah memelihara mereka”. (Qs 4 : 34). Ia selalu ridha dengan apa yang&lt;br&gt;
diberikan suami, betapapun kecilnya pemberian itu dan tidak pernah menuntut&lt;br&gt;
sesuatu yang tidak tergapai oleh penghasilan sang suami. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah….. Ia sabar saat-saat sang suami meninggalkannnya untuk&lt;br&gt;
menuntut ilmu, mencari rizki, atau kepentingan dakwah dan menyambut&lt;br&gt;
kepulangan suami dengan senyum mengembang dan wajah ceria. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah….. Apabila suaminya dilanda futur, semangatnya mengendur, ia&lt;br&gt;
tampil menegur “Mas kok loyyo”, memberikan motivasi dan mengobarkan semangat&lt;br&gt;
juangnya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita shalehah….. Ia selalu melahirkan generasi robbani, mengenalkan&lt;br&gt;
putra-putrinya kepada Allah sejak dini, bahkan sebelum sang anak itu&lt;br&gt;
terlahir kedunia. Mengasuhnya dengan sabar dan penuh keibuan, mendidiknya&lt;br&gt;
dengan pendidikan islami, mengajari Sunnah-sunnah Nabi, akhlakul karimah dan&lt;br&gt;
lain sebagainya. Ibu adalah madrasatul Ula bagi putra-putrinya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dengan demikian ia akan menjadi mar’ah shalehah, zaujah muti’ah dan ummu&lt;br&gt;
madrasah. Singkatnya, wanita shalehah adalah gambaran sosok hamba Allah,&lt;br&gt;
pengikut Rasul, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik dan&lt;br&gt;
menjadi uswah hasanah bagi orang lain. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Indah nian alunan nasyid yang berbunyi : “Sungguh indah permata dunia, intan&lt;br&gt;
mutu manikam, emas dan berlian yang memikat hati. Namun tiada seindah bunga&lt;br&gt;
wanita shalehah harapan agama……. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Demikianlah beberapa sifat dan karakter wanita shalehah yang kudambakan, dan&lt;br&gt;
juga oleh setiap pemuda muslim yang berakal sehat. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Akankah aku mendapatkannya? &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wallahu A’la wa A’lam &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;(Syafri Delon Arifin, 2007)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Bahan Bacaan&lt;br&gt;
1. Al Qur’an Al Karim&lt;br&gt;
2. Yusuf Qordhawy. Dr. Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim. Muassasah&lt;br&gt;
Ar-Risaralah, Bairut. Cet I 1996.&lt;br&gt;
3. Syaikh Muhammad Husain Ya’qub. Sifaat Al-Muslimah Al-Multazamah. Maktabah&lt;br&gt;
Syuqul Akhirah. Cairo. Cet III 1998&lt;br&gt;
4. Ibnu Rojab Al-Hambaly. Jami’ul U’lum wal Hikam. Daarul Khair Bairut. Cet&lt;br&gt;
II 1996 4.&lt;br&gt;
5. Abdul Aziz Muh. Azzam. Dr dan Abd. Wahab Sayid Hawas. Dr. Al Ushrah wa&lt;br&gt;
Ahkamuha fi Tasyri’ Al Islamy. Cairo 99-2000&lt;br&gt;
6. Majalah UMMI Edisi 9/IX/97
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/yang_ku_dambakan~2095670/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>-Baiti jannati- itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia<br>
Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang<br>
sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan. </p>
	<p>Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta<br>
dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan<br>
salah satu faktor penunjang. </p>
	<p>Kalau kita cermati lebih lanjut dan menghayati kehidupan rumah tangga Rasul<br>
SAW, kita akan menemukan dua faktor utama yang menyebabkan rumah beliau<br>
seperti syurga. Dua faktor tersebut adalah suami shaleh dan istri yang<br>
shalehah, kenapa??, karena keduanya orang yang paham betul bagaimana cara<br>
membahagiakan pasangan hidupnya. </p>
	<p>Suami shaleh adalah seorang suami yang selalu ingat bahwa Allah<br>
memerintahkannya agar ia mempergauli istrinya dengan baik dan ia tahu bahwa<br>
istri merupakan amanah yang dititipkan Allah kepadanya, karenanya,<br>
membahagiakan istri merupakan ibadah baginya. </p>
	<p>Demikian pula dengan istri yang shalehah, ia mengerti betul bahwa<br>
ketaatannnya kepada suami adalah perintah Rasul dan merupakan ibadah yang<br>
dijanjikan pahala oleh yang Maha Pengasih. Begitulah, suami yang shaleh dan<br>
istri shalehah apabila mereka berdua saling mencintai maka keduanya akan<br>
selalu berusaha merealisasikan cinta tersebut dengan saling membahagiakan<br>
pasangannya. Namun jika keduanya tidak saling mencintai (kayaknya nggak<br>
mungkin, ya!!??) atau salah seorang diantara keduanya tidak mencintai yang<br>
lain atau pada saat-saat kesel dan sebel, niscaya mereka tidak akan<br>
menyakiti satu sama lain. </p>
	<p>Pada kesempatan kali ini perkenankanlah penulis lebih menitik beratkan<br>
pembahasan tentang wanita shalehah tanpa mengurangi eksistensi pria shaleh,<br>
karena pada prinsipnya mereka mempunyai tuntutan dan pahala yang sama. Allah<br>
berfirman : &#8220;Barang siapa yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, baik<br>
laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk<br>
kedalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun&#8221;. (Qs 4 : 12).<br>
Lihat juga firman Qs 9 : 71 dan Qs 33 : 35. </p>
	<p>Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada para pemuda agar mereka lebih<br>
mempriorotaskan memilih dzaatuddin (baca : wanita shalihah) untuk dijadikan<br>
pendamping hidupnya. Beliau bersabda yang artinya : &#8220;Wanita dinikahi karena<br>
empat perkara : &#8220;karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka<br>
pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engakau akan bahagia&#8221;. (Muttafaqun<br>
Alaih) </p>
	<p>Wanita shalihah&#8230;.. Ia merupakan sosok makhluk lembut yang menjadi idaman<br>
bagi setiap muslim yang shaleh. Karena pada dirinya terdapat perhiasan<br>
terindah di dunia ini sebagaimana disinyalir oleh Sang pembawa kabar gembira<br>
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang<br>
artinya : &#8220;Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah<br>
wanita shalehah&#8221;. Lantas seperti apasih wanita shalehah itu???. </p>
	<p>Wanita shalehah adalah wanita yang benar-benar mengahambakan diri kepada<br>
Allah dan beribadah hanya kepadaNya. Ia menjauhkan diri dari perbuatan<br>
syirik baik kecil apalagi besar, tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak<br>
minta kepada kuburan atau pohon beringin, tidak memberi sesaji kepada Ratu<br>
Laut Selatan atau ratu-ratu lainnya, tidak kedukun, nggak make jimat dan<br>
banyak lagi perbuatan syirik yang dapat meluluh lantakan amal shaleh Allah<br>
berfirman yang artinya : &#8220;Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan<br>
kepada Nabi-nabi sebelummu : &#8220;Jika k amu mempersekutukan (Tuhan), niscaya<br>
akan hapuslah amalmu dan tetulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.<br>
Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sambah dan hendaklah kamu<br>
termasuk orang-orang yang bersyukur&#8221;. </p>
	<p>Lebih gawat lagi Allah tidak akan mengampuni dosa syirik sebagaimana<br>
termaktub dalam firmanNya yang artinya : &#8220;Sesungguhnya Allah tidak<br>
mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni<br>
dosa selain dari syirik itu bagi siapa saj yang di kehendakiNya. Barang<br>
siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tesesat<br>
sejauh-jauhnya&#8221;.(QS 4 : 116) </p>
	<p>Wanita shalehah adalah wanita yang taat, patuh dan berbakti kepada kedua<br>
orang tuanya, Allah SWT menyelaraskan perintah beribadah hanya kepadanya<br>
dengan perintah berbuat baik dengan orang tua. Perhatiakan firman Allah<br>
dalam Qs Al-Israa&#8217; ayat 23-24 yang artinya : &#8220;Dan Tuhanmu telah memrintahkan<br>
supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik<br>
kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara<br>
keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka<br>
sekali-kali janganlah kamu mengatakan &#8220;ah&#8221; dan janganlah kamu membentak<br>
mereka da n ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah<br>
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah :<br>
&#8220;Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah<br>
mendidik aku waktu kecil&#8221;. Lihat juga Qs 31 : 13-15 </p>
	<p>Wanita shalihah adalah wanita yang menjadikan shalat sebagai kebahagian<br>
tersendiri baginya, seperti yang dilalkukan oleh idolanya, Rasulullah SAW<br>
bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa&#8217;i dari Anas Ra :<br>
&#8220;Dan kujadikan shalat sebagai permata hatiku&#8221;. Ia tidak lalai mendirikan<br>
shalat tepat pada waktunya, khusu&#8217; dalam shalat-shalatnya, gemar berpuasa<br>
dan bersedekah, sungguh- sungguh dalam do&#8217;anya antara takut dan penuh harap. </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;.. Jilbab adalah pakaiannya, busana muslimah yang menutup<br>
rapat seluruh auratnya, pakaian yang disyariatkan oleh Sang Penguasa jagad<br>
raya kepadanya. Allah berfirman yang artinya : &#8220;Hai Nabi katakanlah kepada<br>
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin :<br>
&#8220;hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka&#8221;. Yang<br>
demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak<br>
diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&#8221;. Jilbab<br>
adalah syi&#8217;ar islam, hanya jilbab yang menjadi pembeda antara muslimah dan<br>
wanita kafir di tempat umum. Wanita shalehah tahu apapun yang disyari&#8217;atkan<br>
Allah kepada manusia, tidak lain untuk kebaikan mereka. </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;. Dalam dirinya terkumpul kebaikan akhlak, adab baginya<br>
lebih baik dari zahab (emas), penghias bibirnya adalah zikrullah dan bacaan<br>
Al-Qur&#8217;an, pemerah pipinya adalah rasa malu, eye shadawnya gahdul bashar dan<br>
ia selalu menjaga kesuciannya sebagai aplikasi dari firman Allah yang<br>
artinya : &#8220;Katakanlah kepada wanita yang beriman : &#8220;Hendaklah mereka menahan<br>
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan<br>
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka<br>
menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya,<br>
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau<br>
putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara<br>
leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau<br>
wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau<br>
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita)<br>
atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah<br>
mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka<br>
sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang<br>
yang beriman supaya kamu beruntung&#8221;. (Qs 24 : 31). </p>
	<p>Ia juga menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, baik<br>
melalui bersalaman apalagi diraba-raba. (Iiii ngeriii).Rasul SAW bersabda<br>
yang artinya : &#8220;Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang<br>
diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal<br>
baginya&#8221;. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi&#8217;qol bin yasaar) </p>
	<p>Wanita shalehah adalah wanita yang terdidik dengan tarbiyah islamiyah, terus<br>
memperdalam ilmu syar&#8217;i, aktif dalam kegiatan dakwah beramar makruf nahi<br>
mungkar. </p>
	<p>Wanita shalehah.&#8230;. Ia senantisa berusaha menghindari ikhtilat, berkhalwat,<br>
apalagi pacaran. Pacaran? makhluk apaan tuh???&#8230;. Tidak la yau. Rasulullah<br>
SAW bersabda yang artinya : &#8220;'Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat<br>
(berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan&#8221;.(Hr Tirmizi) </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;. Hari-hari libur dari ritualnya ia ganti dengan dangan<br>
hal-hal yang bermanfaat, membaca buku-buku islam, mendengar kaset-kaset<br>
ceramah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya. </p>
	<p>Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan<br>
perintah Allah, sungguh-sungguh terhadap kewajiban dan hirs terhadap<br>
nawafil, sehingga ia dapat menggapai cintaNya sebagaimana yang dijanjikan<br>
oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam<br>
Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : &#8220;Rasul bersabda : &#8220;Allah berfirman<br>
: &#8220;Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah<br>
mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri<br>
kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu<br>
selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku<br>
mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia<br>
gunakan untuk m endengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat<br>
dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan,<br>
apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta<br>
perlindungan niscaya Aku lindungi (Hr Bukhary) </p>
	<p>Dan meninggalkan laranganNya, berusaha menghindari yang makhruh dan<br>
sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah<br>
melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak<br>
ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang<br>
disabdakan oleh Nabi SAW yang artinya : &#8220;Setiap anak Adam pernah melakukan<br>
perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah<br>
orang-orang yang bertaubat&#8221;. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus<br>
pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari<br>
kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana<br>
termaktub dalam firmanNya yang artinya : &#8220;Dan (juga) orang-orang yang<br>
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka<br>
ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi<br>
yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak<br>
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui&#8221;. (Qs 3 : 135). </p>
	<p>Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur<br>
lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya.<br>
Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak<br>
bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. So pemuda muslim akan ngiler,<br>
trus ngincer untuk selanjut nguber. Nah lho..... </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;. Ketika di khitbah oleh seorang muslim yang shaleh dan<br>
multazim, ia tidak menolaknya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : &#8220;Jika<br>
datang kepadamu (mengkhitbah) orang yang kamu ridha dien dan akhlaknya, maka<br>
nikahkanlah dia, bila tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar&#8221;.<br>
Ia memprioritaskan dua syarat dien dan akhlak, namun tidak terlalu ghulu<br>
(berlebihan) dalam menyaring dan menentukan pilihan, sebab ia tahu tidak ada<br>
orang zaman sekarang yang imannya setaraf dengan Abu Bakar atau Umar.<br>
Cukuplah baginya pemuda yang shaleh dan multazim, itulah yang ia nantikan. </p>
	<p>Suami&#8230;, ah gadis mana yang tidak mengenangkan suami, pendamping dan pasangan<br>
hidup, yang akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan? Rasanya semua gadis<br>
mengimpikannya. Akan dinantinya saat-saat kedatangan sang pujaan hati dengan<br>
debar bahagia di dada, dengan rona memerah dipipi, terlambunglah angan dan<br>
teruntailah harapan : &#8220;Akankah kumiliki suami idaman nan shaleh?, suami yang<br>
dapat dijadikan tempat berbagi, tempat belajar, tempat mencurahkan isi hati<br>
, tempat bermanja, juga tempat menyerahkan ketaatan agar tercapai ridha<br>
Ilahi, suami yang menjadi qowam yang dapat menggandeng tangan pasangannya<br>
menuju syurga Allah, suami yang menjadi teladan, suami yang menjadi<br>
pendidik, suami yang menjadi kecintaan, aah pantas kiranya tak boleh sembar<br>
angan memilih suami&#8230;... </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;.. Saat memasuki jenjang pernikahan, terbetik azam dalam<br>
hatinya, untuk mengoptimalkan diri dalam mencurahkan ketaatan kepada<br>
suaminya, terngiang di telinganya nasehat seorang ibu Umamah binti Harits<br>
kepada putrinya dimalam pernihkahan sang putri tercinta : &#8220;Wahai putriku<br>
tersayang&#8230; Sesungguhnya nasehat ini jika ditinggalkan karena keagungan adab<br>
maka kutinggalkan ia untukmu. Nasehat ini merupakan peringatan bagi orang<br>
yang lalai (lupa) dan petunjuk bagi yang berakal, jika seorang wanita tidak<br>
butuh terhadap pernikahan, niscaya kedua orang tuanya lebih tidak<br>
membutuhkannya, akan tetapi keduanya sangat membutuhkannya, karena wanita<br>
diciptakan untuka lelaki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Putriku<br>
sayang&#8230; kini engkau akan berpisah dari udara dan dunia remaja yang akupun<br>
telah melaluinya. Kini engkau akan menjalani hidup baru yang juga pernah<br>
kujalani, menuju kehidupan yang belum engkau ketahui dan teman yang belum<br>
engkau pahami, dia akan menjadi raja dan pelindung bagimu. Jadilah engkau<br>
budaknya, niscaya dia akan menjadi budak yang dekat denganmu, ingat dan<br>
peliharalah sepuluh point yang akan menjadi modal dan simpanan bagimu. </p>
	<p>Yang pertama dan kedua adalah : Tunduk berkhidmat kepadanya disertai dengan<br>
qona&#8217;ah. Memperhatikan ucapannya disertai dengan to&#8217;ah (taat). </p>
	<p>Yang ketiga dan ke empat : menjaga persaan mata dan hidungnya, jangan sampai<br>
matanya melihat sesuatu yang jelek darimu dan jangan tercium olehnya kecuali<br>
sesuatu yang harum dan wangi. </p>
	<p>Adapun yang kelima dan enam : perhatikanlah watu makan dan tidurnya, karena<br>
rasa lapar dapat menimbulkan emosi dan kurang tidur bisa mengundang amarah. </p>
	<p>Yang ke tujuh dan delapan : menjaga hartanya serta menaruh hormat terhadap<br>
keluarganya, aturlah hartanya dengan baik dan pergauilah keluarganya sebaik<br>
mungkin. </p>
	<p>Dan yang ke sembilan dan sepuluh : jangan engkau maksiat dan menentangnya,<br>
jangan pula engkau beberkan rahasianya, bila engkau menentangnya maka engkau<br>
telah mengobarkan kemarahannya dan jika engkau membeberkan rahasianya<br>
niscaya engkau tidak akan merasa aman akan kepergiannya. Kemudian jangan<br>
sampai engkau menampakkan kegembiraan jika ia sedang bersedih dan jangan<br>
pula menampakkan kesedihan bila ia sedang gembira. </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;.. Ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak melulu<br>
berjalan mulus, berbentangkan permadani. Kehidupan rumah tangga tak ubahnya<br>
sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, terkadang tenang dengan ombak<br>
dan riak-riak kecil, namun dilain waktu angin kencang melanda, badai<br>
menghantam, ombak bergulung seakan ingin menenggelamkan kapal dan seluruh<br>
isinya. Saat seperti itulah peranan suami istri teruji, jika mereka kompak,<br>
bahu-membahu dengan saling pengertian, InsyaAllah biduk akan selamat sampai<br>
ketepian. </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;.. Ia menjadi sesuatu yang paling berharga bagi suaminya<br>
setelah ketakwaannya kepada Allah, bila dipandang oleh sang suami<br>
menimbulkan rasa bahagia dihati. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits<br>
yang artinya : &#8220;tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang muslim setelah<br>
takwa kepada Allah dan lebih baik baginya selain dari istri yang shalehah,<br>
apabila ia memerintahnya dia akan mentaatinya, jika ia melihat kepadanya dia<br>
membahagiakannya, jika bersumpah kepadanya dia menepatinya dan bila ia tidak<br>
berada di dekatnya dia menjaga dirinya juga harta suaminya&#8221;. (HR Ibnu<br>
Majah). Ia tidak memasukkan lelaki kerumahnya tanpa seizin sang suami dan<br>
selalu menjaga harga diri dan kepercayaan suaminya. Allah berfirman yang<br>
artinya : &#8220;Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena<br>
Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain<br>
(wanita), dan kerena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari<br>
harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada<br>
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah<br>
telah memelihara mereka&#8221;. (Qs 4 : 34). Ia selalu ridha dengan apa yang<br>
diberikan suami, betapapun kecilnya pemberian itu dan tidak pernah menuntut<br>
sesuatu yang tidak tergapai oleh penghasilan sang suami. </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;.. Ia sabar saat-saat sang suami meninggalkannnya untuk<br>
menuntut ilmu, mencari rizki, atau kepentingan dakwah dan menyambut<br>
kepulangan suami dengan senyum mengembang dan wajah ceria. </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;.. Apabila suaminya dilanda futur, semangatnya mengendur, ia<br>
tampil menegur &#8220;Mas kok loyyo&#8221;, memberikan motivasi dan mengobarkan semangat<br>
juangnya. </p>
	<p>Wanita shalehah&#8230;.. Ia selalu melahirkan generasi robbani, mengenalkan<br>
putra-putrinya kepada Allah sejak dini, bahkan sebelum sang anak itu<br>
terlahir kedunia. Mengasuhnya dengan sabar dan penuh keibuan, mendidiknya<br>
dengan pendidikan islami, mengajari Sunnah-sunnah Nabi, akhlakul karimah dan<br>
lain sebagainya. Ibu adalah madrasatul Ula bagi putra-putrinya. </p>
	<p>Dengan demikian ia akan menjadi mar&#8217;ah shalehah, zaujah muti&#8217;ah dan ummu<br>
madrasah. Singkatnya, wanita shalehah adalah gambaran sosok hamba Allah,<br>
pengikut Rasul, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik dan<br>
menjadi uswah hasanah bagi orang lain. </p>
	<p>Indah nian alunan nasyid yang berbunyi : &#8220;Sungguh indah permata dunia, intan<br>
mutu manikam, emas dan berlian yang memikat hati. Namun tiada seindah bunga<br>
wanita shalehah harapan agama&#8230;&#8230;. </p>
	<p>Demikianlah beberapa sifat dan karakter wanita shalehah yang kudambakan, dan<br>
juga oleh setiap pemuda muslim yang berakal sehat. </p>
	<p>Akankah aku mendapatkannya? </p>
	<p>Wallahu A&#8217;la wa A&#8217;lam </p>
	<p>(Syafri Delon Arifin, 2007)</p>
	<p>Bahan Bacaan<br>
1. Al Qur&#8217;an Al Karim<br>
2. Yusuf Qordhawy. Dr. Malamih Al-Mujtama&#8217; Al-Muslim. Muassasah<br>
Ar-Risaralah, Bairut. Cet I 1996.<br>
3. Syaikh Muhammad Husain Ya&#8217;qub. Sifaat Al-Muslimah Al-Multazamah. Maktabah<br>
Syuqul Akhirah. Cairo. Cet III 1998<br>
4. Ibnu Rojab Al-Hambaly. Jami&#8217;ul U&#8217;lum wal Hikam. Daarul Khair Bairut. Cet<br>
II 1996 4.<br>
5. Abdul Aziz Muh. Azzam. Dr dan Abd. Wahab Sayid Hawas. Dr. Al Ushrah wa<br>
Ahkamuha fi Tasyri&#8217; Al Islamy. Cairo 99-2000<br>
6. Majalah UMMI Edisi 9/IX/97
</p>
<p> <small> <a href="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/yang_ku_dambakan~2095670/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/overview~2093500/"><default:title>oVerView!</default:title><default:link>http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/overview~2093500/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2007-04-15T04:52:40+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;My walking stick... &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;You, my walking stick,&lt;br&gt;
I look at you with awe&lt;br&gt;
A trusted friend and&lt;br&gt;
A selfless aide&lt;br&gt;
For over three decades &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Everywhere that I go&lt;br&gt;
You are in my front&lt;br&gt;
Always taking the lead&lt;br&gt;
For me to follow &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;As I struggle to cross&lt;br&gt;
The busy roads of life&lt;br&gt;
You grip my arm&lt;br&gt;
In secure love, as you&lt;br&gt;
Take me to the other side &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;When I silently cry&lt;br&gt;
With unshed tears of pain&lt;br&gt;
You stand upright&lt;br&gt;
With compassionate confidence&lt;br&gt;
Making yourself a prop &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;As I stumble on the ills&lt;br&gt;
Of this life, groping,&lt;br&gt;
You act as my eyes&lt;br&gt;
Making me see what I can't &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;I am aging, and so are you&lt;br&gt;
But never leave me&lt;br&gt;
You, my walking stick,&lt;br&gt;
For we are intertwined&lt;br&gt;
With one another &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Yes, you my walking stick,&lt;br&gt;
You have a name&lt;br&gt;
And you have a title,&lt;br&gt;
A title called&lt;br&gt;
'wife'&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;(Suresh Kumar, 2007)
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/overview~2093500/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>My walking stick... </p>
	<p>You, my walking stick,<br>
I look at you with awe<br>
A trusted friend and<br>
A selfless aide<br>
For over three decades </p>
	<p>Everywhere that I go<br>
You are in my front<br>
Always taking the lead<br>
For me to follow </p>
	<p>As I struggle to cross<br>
The busy roads of life<br>
You grip my arm<br>
In secure love, as you<br>
Take me to the other side </p>
	<p>When I silently cry<br>
With unshed tears of pain<br>
You stand upright<br>
With compassionate confidence<br>
Making yourself a prop </p>
	<p>As I stumble on the ills<br>
Of this life, groping,<br>
You act as my eyes<br>
Making me see what I can't </p>
	<p>I am aging, and so are you<br>
But never leave me<br>
You, my walking stick,<br>
For we are intertwined<br>
With one another </p>
	<p>Yes, you my walking stick,<br>
You have a name<br>
And you have a title,<br>
A title called<br>
'wife'</p>
	<p>(Suresh Kumar, 2007)
</p>
<p> <small> <a href="http://blagbligblug.blog.co.uk/2007/04/15/overview~2093500/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item></rdf:RDF>
